Opini & Catatan
4 mnt baca • 8 pembaca

Mana yang Lebih Dulu, Listrik atau Telepon?

Wardoyo, S.I.Kom.
Wardoyo, S.I.Kom. Ketua PWI Kabupaten Banyuasin - Periode 2025–2028
Selasa, 10 April 2007

Sebuah pertanyaan yang sampai sekarang tidak pernah terjawab adalah mana yang lebih dahulu, ayam atau telur? Sebuah pertanyaan serupa muncul saat akan membangun jaringan telepon seluler di daerah yang terpencil atau bahkan mungkin terisolasi, mana yang lebih dahulu, listrik atau telepon?

Pertanyaan ini mungkin tidak muncul ketika telepon seluler (ponsel) belum berkembang atau bahkan belum ada seperti sekarang ini. Untuk membangun jaringan ”telepon tetap” secara otomatis, tenaga listrik akan dipenuhi dari stasiun telepon, dan konsumen tidak perlu memikirkannya.

Namun, berbeda ketika operator akan membangun jaringan ponsel di daerah yang tidak memiliki jaringan listrik. Karena bukan hanya base transceiver station (BTS) yang membutuhkan listrik, tetapi para pemakai ponsel juga butuh listrik untuk mengisi baterai ponsel.

Sebuah fenomena yang perlu dipikirkan oleh negara-negara yang memiliki kawasan terpencil dan tidak memiliki jaringan listrik. Termasuk seperti Indonesia yang memiliki ribuan pulau, hampir bisa dipastikan sebagian besar, terutama pulau-pulau kecil, tidak memiliki jaringan listrik dari PLN.

Padahal, telepon merupakan jembatan komunikasi yang sangat berguna untuk menyatukan semua kawasan yang belakangan ini terasa makin tidak utuh saja. Padahal, teknologi seluler sangat memungkinkan pulau-pulau terisolasi untuk bisa memiliki telepon sendiri dan bisa memecahkan keterasingan dari bangsa sendiri.

Sebuah proyek yang sedang dikembangkan perusahaan jaringan telekomunikasi Ericsson bersama Dana Pengembangan Asosiasi GSM (GSMA Development Fund) dengan biofuel atau bahan bakar hayati. Mereka mengembangkan bahan bakar yang bukan dari bahan fosil untuk membangkitkan listrik sebagai sumber tenaga untuk jaringan nirkabel di daerah terpencil.

Perintis

Selain melakukan percobaan di Nigeria, bersama kelompok MTN Nigeria, pihak GSMA dan Ericsson merintis pengembangan bahan bakar hayati di India. Di India mereka bekerja sama dengan operator telepon nirkabel Idea Cellular dengan melakukan proyek rintisan di daerah Pune, Maharashtra.

Pada tahap pertama proyek itu mereka menguji kelayakan bahan bakar dari tanaman yang tidak bisa dimakan, seperti kapas dan jarak yang sudah mendekati penyelesaian. Tahap berikutnya membuat rantai pasokan sisa panenan lokal untuk memproduksi biodiesel guna membangkitkan listrik antara 5 sampai 10 BTS di Maharashtra.

Biodiesel yang diharapkan bisa melistriki BTS pertengahan tahun 2007 ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan bahan bakar diesel yang sebenarnya. Biodiesel dibuat secara lokal, selain menyediakan lapangan kerja, juga tidak memerlukan angkutan dan membuat daerah terpencil itu menjadi mandiri, selain sifatnya yang lebih ramah lingkungan.

”Kami melihat ke depan untuk berbagi keahlian dan tambahan pengetahuan dari proyek ini dengan operator lain di seluruh dunia,” kata Rob Cownway, CEO Asosiasi GSM.

Hal serupa juga sedang diteliti pihak Indonesia. Saat ini Indonesia juga sedang mencoba biodiesel untuk kebutuhan kendaraan.

Tentu ini merupakan dorongan positif bagi pemerintah untuk lebih serius menangkap peluang. Bukan hanya melistriki BTS, tetapi juga termasuk mengembangkan proyek rintisan untuk kelistrikan lokal, terutama daerah terpencil secara lebih serius.

Penyetrum ponsel

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana para pemilik ponsel di daerah terpencil bisa menyetrum baterai ponselnya, terutama untuk daerah yang aliran listriknya hanya hidup pada malam hari atau bahkan tidak ada jaringan listrik sama sekali?

Sebenarnya sudah tidak kurang pengembangan penyetrum baterai yang tidak memerlukan jaringan listrik. Yang sangat atraktif sebenarnya adalah jenis fuel-cell atau baterai bahan bakar, di mana kebutuhan listrik langsung diambil dari bahan bakar seperti metanol melalui sebuah proses kimia, yaitu berupa kebalikan dari proses elektrolisa.

Sudah ada banyak prototipe pembangkit mini jenis ini, tetapi kendala paling besar adalah bahan bakar metanol sangat mudah terbakar. Penerbangan masih melarang bahan bakar ini, apalagi belakangan ini semua jenis cairan yang dibawa ke dalam pesawat akan dicurigai sebagai upaya teror untuk meledakkan pesawat.

Baterai fuel-cell sangat revolusioner yang bisa memecahkan kebutuhan listrik dari kebutuhan ponsel sampai pembangkit raksasa tanpa mengeluarkan gas buang berbahaya. Dengan baterai hidrogen itu tidak diperlukan lagi mengisi listrik dalam waktu lama, cukup beberapa detik dengan menyuntikkan bahan bakar ke tangki fuel-cell.

Langkah evolutif tetapi juga menarik adalah pengembangan sel surya fleksibel (lentur atau bisa digulung). Dari jenis sel surya lentur ini bisa dikembangkan penyetrum dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan praktis dengan bobot yang jauh lebih ringan daripada yang ada sekarang.

Setidaknya ketiga sumber daya listrik tersebut bisa memberikan solusi yang menarik, tentu belum termasuk air dan angin. Bagaimanapun solusi-solusi yang mandiri seperti ini seharusnya terus-menerus dikembangkan jika memang pemerintah serius memikirkan daerah terpencil di negeri ini. (AW Subarkah)

Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/15/telkom/

Bagikan Tulisan Ini:
Wardoyo, S.I.Kom.

Wardoyo, S.I.Kom.

Ketua PWI Kabupaten Banyuasin - Periode 2025–2028

SK PWI Pusat Nomor: 033/PP-PWI/XI/2025

Wartawan Utama Dewan Pers, Anggota DKP PWI Sumsel, dan pegiat advokasi jurnalisme di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Kompetensi Pers: UKW Utama Dewan Pers
Dewan Kehormatan: DKP PWI Sumatera Selatan
Lihat Semua 320 Tulisan
Profil Penulis

Wardoyo, S.I.Kom. adalah Wartawan Tingkat Utama Dewan Pers dan Ketua PWI Banyuasin Periode 2025–2028. Seluruh tulisan ini merupakan arsip pemikiran dan dedikasi profesional.

Lihat Portofolio & Rekam Jejak

Kontak Pengurus PWI

Pilih kontak WhatsApp pengurus harian di bawah ini

Wardoyo, S.I.Kom
Wardoyo, S.I.Kom

KETUA PWI BANYUASIN

H. Gusra Yetri, SH
H. Gusra Yetri, SH

WAKIL KETUA PWI

Deni Arianto
Deni Arianto

SEKRETARIS PWI

Ridho Andi Sucipto, M.Pd
Ridho Andi Sucipto, M.Pd

BENDAHARA PWI